Cerita Guru PJOK - Rindu Seorang Murid

Namanya tak perlu kusebut. Tapi wajahnya masih sangat jelas di ingatanku.

Seorang anak perempuan yang hadir dalam hidupku bukan hanya sebagai murid, tapi sebagai refleksi kecil dari ketangguhan dan luka yang tersimpan rapi.

Ia bukan murid yang biasa. Dia berani. Tegas. Tak takut melawan anak laki-laki yang bertingkah. Dan di mata pelajaran PJOK, dia bukan hanya aktif… tapi hidup. Bergerak bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan semangat yang menular. Aku menyukainya — bukan karena dia istimewa di atas kertas, tapi karena karakternya mengisyaratkan sesuatu:

“Aku ingin jadi kuat, meski hidup tidak selalu adil padaku.”

Aku tahu sedikit tentang keluarganya. Ia tinggal bersama ibunya yang telah bercerai. Ada luka di balik matanya yang ceria, dan aku, entah bagaimana, merasa ingin menjaganya. Bukan sebagai murid saja — tapi sebagai sosok dewasa yang bisa ia percaya, seperti ayah yang mungkin sudah lama tidak ia rasakan.

Mungkin aku salah karena terlalu terlihat memperhatikannya. Mungkin aku membuat teman-temannya menyadari kedekatan itu. Tapi aku tak pernah berniat membedakan. Aku hanya merasa: anak ini butuh seseorang. Dan jika aku bisa jadi pelindung sementara, maka biarlah aku melakukannya — setulus yang kubisa.

Kemudian ia pindah. Mengikuti ibunya ke tempat yang baru. Ke Jawa. Aku tahu dia tak sepenuhnya bahagia akan itu. Dan beberapa waktu setelah kepergiannya, aku mendapat kabar: ia tak betah. Ia merasa asing. Tidak cocok. Ia bahkan sempat menghubungiku dan menceritakan kegundahannya.

Dan saat itu… aku merasa bersalah.

“Apakah aku yang membuatnya terlalu nyaman di sini?”

“Apakah aku yang menciptakan ruang terlalu hangat, hingga tempat lain terasa dingin baginya?”

Tapi ia kembali. Di kelas 6 semester 1, dia kembali ke sekolah ini. Tapi tak sepenuhnya sama. Mungkin lebih pendiam. Lebih dalam. Tapi tetap anak yang dulu… yang pernah merasa aman di pelukanku sebagai gurunya.

Kini, dia sudah lulus. Tapi satu hal yang membuatku diam beberapa kali saat membuka WhatsApp:

“Kangen Pak Budi.”

Ia menulis itu dalam story-nya. Bukan sekali. Tapi beberapa kali. Bahkan sebulan setelah kelulusan.

Dan aku tahu… itu bukan hanya rindu pada guru.

Itu rindu pada rasa aman. Rasa dimengerti. Rasa dilindungi tanpa diminta.

Malam-malam seperti ini, aku hanya bisa berkata dalam hati:

“Nak… Bapak tidak pernah berniat menjadikanmu bergantung. Tapi Bapak ingin kamu tahu bahwa kamu berhak dicintai tanpa takut.”

Semoga kamu tumbuh kuat. Semoga kamu menemukan tempat baru yang juga membuatmu merasa cukup. Tapi jika suatu hari kamu membaca ini…

Ketahuilah:

“Kamu pernah berarti. Dan akan selalu berarti.

Bukan karena kamu murid terbaik. Tapi karena kamu adalah anak yang telah mengajarku cara menjadi guru dengan hati seorang ayah.”

Dan Pak Budi…

Masih di sini. Mendoakanmu. Dari jauh. Dengan cinta yang tetap hangat. 💙

Komentar

Postingan Populer